Kelana Lini | Merayakan Seni, Komunitas, dan Identitas Lokal di Yogyakarta dan Surakarta

Yogyakarta, 9 Juni 2026 — Meramu.id mempersembahkan Kelana Lini, sebuah pameran seni lintas kota yang menelusuri bagaimana sebuah tempat membentuk cara hidup, cara berpikir, dan pada akhirnya mempengaruhi ekspresi visual para perupanya. Mengambil Yogyakarta dan Surakarta sebagai titik berangkat, Kelana Lini menghadirkan karya-karya perupa muda dan kolektif seni yang tumbuh dari keseharian kedua kota tersebut.

Program ini terselenggara atas dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, LPDP, dan Indonesia Kaya, serta dikembangkan bersama Britto Wirajati sebagai Kurator dan Rahmat “Kibo” Indrani sebagai Artistic Director sekaligus Principal Architect di SPOA.

Mengusung tema Locus Amoenus atau “tempat yang menyenangkan”, Kelana Lini berangkat dari gagasan bahwa karya seni tidak lahir dalam ruang hampa. Lingkungan sosial, subkultur, kebiasaan sehari-hari, hingga ritme sebuah kota turut membentuk identitas visual para senimannya. Melalui pameran ini, publik diajak mengamati bagaimana Yogyakarta dan Surakarta menjadi ruang yang melahirkan praktik-praktik artistik yang khas.

Kelana Lini menghadirkan 8 perupa individual, 4 kolektif seni, 2 muralis, 3 program publik, dan berlangsung di 2 kota. Melalui pameran dan berbagai aktivasi berbasis komunitas, Meramu.id berupaya mempertemukan praktik seni rupa dengan kehidupan sehari-hari secara lebih terbuka, partisipatif, dan dekat dengan masyarakat.

“Kelana Lini lahir dari keyakinan bahwa seni tidak seharusnya terasa jauh atau eksklusif. Kami ingin menghadirkan ruang di mana orang bisa bertemu dengan karya dan para senimannya secara lebih alami – melalui komunitas, percakapan, dan pengalaman bersama. Ketika seni menjadi bagian dari keseharian, di situlah ekosistem kreatif dapat tumbuh dengan lebih sehat dan berkelanjutan.” — Adinda Fudia Hanamici, Co-Founder Meramu.id

Para pameris dipilih karena praktik artistiknya merepresentasikan beragam bentuk ekspresi yang tumbuh dari keseharian, subkultur, dan dinamika komunitas di Yogyakarta maupun Surakarta. Perupa yang terlibat dalam Kelana Lini adalah Andika Namaste, Danang Catur, Dika Rabt, Iwank HS, Jerojerr, Nisrina Nur Kamila, R. Dewa Mahendra Putra, dan Ummi Luthfiyyah.

Karya seni warna-warni dalam pameran Kelana Lini dipajang di dinding merah GIK UGM

Pameran ini juga melibatkan empat kolektif seni yaitu Canvas Confluence Collective, Garis Collective, Krack! Printmaking Collective, dan Titik Kumpul Forum, serta menghadirkan karya mural dari Fauzan Abusalam dan David Krebonson sebagai bagian dari aktivasi ruang publik.

Dalam perancangannya, Kelana Lini menghadirkan pendekatan artistik dan spasial yang dikembangkan oleh Rahmat “Kibo” Indrani untuk menciptakan pengalaman pamer yang tidak hanya menempatkan karya sebagai objek visual, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman ruang yang dapat dialami audiens.

“Dalam pameran Kelana Lini, seni dirayakan secara kasual, menariknya keluar dari dinding galeri kubah putih, menuju ruang-ruang publik. Dalam pameran ini tak ada batasan kaku seperti seni rupa “sekolahan” pada umumnya, namun juga tidak berarti serampangan dan asal-asalan. Pameran Kelana Lini adalah sebuah parade berkeliling untuk mengamati kembali, bagaimana sebuah lokasi mempengaruhi ekspresi visual, dalam sebuah tempat yang menyenangkan (Locus amoenus).” — Britto Wirajati, Kurator Kelana Lini

Selain menghadirkan pameran kelompok, Kelana Lini juga menyelenggarakan berbagai program publik yang melibatkan komunitas lokal di masing-masing kota. Program-program tersebut mencakup workshop, diskusi, aktivitas keluarga, pertunjukan musik, serta berbagai bentuk aktivasi berbasis komunitas yang dirancang untuk memperluas partisipasi publik terhadap seni.

Di tengah tumbuhnya minat generasi muda terhadap budaya, ruang kreatif, dan pengalaman berbasis komunitas, Kelana Lini hadir sebagai upaya untuk mempertemukan seni rupa dengan kehidupan sehari-hari secara lebih terbuka dan partisipatif.

Lebih dari sekadar pameran, Kelana Lini merupakan sebuah perjalanan untuk melihat kembali bagaimana sebuah tempat membentuk identitas visual dan kehidupan budaya masyarakatnya. Sebuah perayaan seni yang bergerak, terbuka, dan menyenangkan — sebuah Locus Amoenus.

Bantu orang lain tahu juga share artikel ini