Sheikh Sultan bin Ahmed Umumkan Pendirian Pusat Inovasi Kemanusiaan Jawaher Al Qasimi di UGM
Yogyakarta, 17 September 2026. Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi, Wakil Penguasa Sharjah sekaligus Utusan Kemanusiaan The Big Heart Foundation (TBHF), mengumumkan pendirian Pusat Inovasi Kemanusiaan Jawaher Al Qasimi (Jawaher Al Qasimi Humanitarian Innovation Centre) di Universitas Gadjah Mada (UGM). Pengumuman itu disampaikan dalam seremoni penandatanganan kesepakatan pendirian yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.
Pusat inovasi kemanusiaan di UGM ini dirancang sebagai platform multidisiplin yang permanen. Perannya menghubungkan pengetahuan akademik, riset, dan inovasi dengan keahlian kemanusiaan di lapangan. Semua itu kemudian diolah menjadi solusi praktis yang dapat diuji, dikembangkan, dan diterapkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pendiriannya lahir dari kemitraan TBHF, NAMA Women Advancement Establishment (NAMA), dan UGM dengan total pendanaan 1,6 juta dolar AS. Rinciannya, 1 juta dolar AS berasal dari TBHF, 500.000 dolar AS dari NAMA, dan 100.000 dolar AS dari UGM.
Dalam pidatonya pada seremoni tersebut, Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi menegaskan bahwa universitas memegang peran penting dalam kemajuan masyarakat. Universitas mendidik generasi, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memperluas pemahaman atas berbagai tantangan yang dihadapi dunia.
Menurutnya, nilai sejati pengetahuan baru terwujud ketika pengetahuan melampaui dinding institusi akademik untuk melayani manusia, menjawab kebutuhan mereka, dan ikut membangun kehidupan yang lebih baik. Pendekatan inilah yang dijalankan Emirat Sharjah bersama lembaga akademik dan kemanusiaan.
Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi menjelaskan, investasi pada manusia, pendidikan, dan kebudayaan telah lama menjadi pilar utama perjalanan Sharjah. Langkah itu berjalan di bawah visi Yang Mulia Sheikh Dr. Sultan bin Mohammed Al Qasimi, Anggota Dewan Tertinggi Uni Emirat Arab sekaligus Penguasa Sharjah. Visi tersebut beriringan dengan upaya kemanusiaan yang dipimpin istrinya, Yang Mulia Sheikha Jawaher bint Mohammed Al Qasimi, Ketua Sharjah Family and Community Council. Upaya itu menempatkan martabat manusia dan terbukanya kesempatan sebagai inti perjuangannya.
Ia menambahkan, pendirian Pusat Inovasi Kemanusiaan Jawaher Al Qasimi di UGM merupakan kelanjutan sekaligus perwujudan nilai tersebut.
Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi juga menyampaikan bahwa pusat ini dibangun di atas kemitraan yang sudah terjalin antara NAMA dan UGM. Kerja sama itu berjalan melalui Jawaher Fund for the Advancement of Women’s Education, dana pendidikan perempuan yang berafiliasi dengan NAMA. Kemitraan ini juga mendukung perempuan yang ingin melanjutkan studi pascasarjana.
Ia menekankan, pendirian pusat inovasi kemanusiaan lewat kerja sama NAMA dan TBHF mencerminkan kebutuhan untuk menyatukan pengetahuan akademik, keahlian kemanusiaan, dan realitas masyarakat dalam satu sistem. Kebutuhan itu makin terasa karena tantangan kemanusiaan dan pembangunan kian saling terkait. Contohnya ketahanan pangan dan penghidupan, perubahan iklim dan ketangguhan, pemberdayaan perempuan, serta kesejahteraan anak.
Menurut Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi, pusat ini bertujuan memperkuat hubungan antara pengetahuan, inovasi kemanusiaan, dan kebutuhan masyarakat. Caranya dengan memahami kondisi lapangan secara lebih mendalam, menelusuri akar persoalan, lalu mengubah pengetahuan dan riset menjadi solusi yang praktis dan efektif.
Ia berharap pusat ini bersama UGM dapat membangun wadah yang mempertemukan keahlian akademik dengan kebutuhan masyarakat. Wadah itu diharapkan terus melahirkan solusi atas persoalan kemanusiaan dan pembangunan di Indonesia, Asia Tenggara, hingga kawasan lain, dengan hasil yang nyata dan berkelanjutan.
Menutup pidatonya, Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi menegaskan bahwa pusat ini akan bekerja bersama UGM menghubungkan keahlian akademik dengan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi itu akan membantu mengubah gagasan besar menjadi hasil yang menjawab tujuan riset, sekaligus memberi nilai berkelanjutan bagi upaya kemanusiaan dan pembangunan.
Ia juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang berkontribusi dalam pendirian pusat dan kemitraan kemanusiaan ini.
Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi juga menyaksikan penandatanganan kesepakatan pendirian Pusat Inovasi Kemanusiaan Jawaher Al Qasimi di UGM. Kesepakatan itu ditandatangani Mariam Al Hammadi, Anggota Dewan Penasihat TBHF sekaligus Direktur Jenderal NAMA, bersama Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama.
Dalam sambutannya, Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyebut kunjungan Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi beserta delegasi sebagai momentum penting untuk mempererat persahabatan dan kemitraan antarlembaga. Kunjungan ini sekaligus mencerminkan komitmen bersama untuk menghadirkan dampak positif dan berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra atas kepercayaan yang diberikan kepada UGM. Menurutnya, kemitraan ini lebih dari sekadar kerja sama atau dukungan kelembagaan. Kemitraan ini adalah perjalanan bersama yang berlandaskan nilai, rasa saling menghormati, dan semangat untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, terutama mereka yang paling membutuhkan.
Ia menjelaskan, sebagai universitas nasional tertua di Indonesia, UGM menempatkan pengabdian kepada masyarakat di jantung misinya. Melalui pendidikan, riset ilmiah, dan inovasi, UGM berupaya ikut menemukan solusi praktis atas tantangan yang dihadapi masyarakat.
Misi itu, lanjutnya, sejalan dengan visi UGM dan lembaga mitranya di bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan dan pemuda, penguatan ketangguhan masyarakat, inklusi sosial, serta pembangunan berkelanjutan.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., juga memaparkan program unggulan UGM yang memungkinkan mahasiswa dan akademisi bekerja langsung bersama masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut ikut menangani persoalan pendidikan, kesehatan, penghidupan, dan kelestarian lingkungan, sekaligus memperkuat ketangguhan bencana dan pembangunan sosial. Jejaring kegiatan lapangan dan pengabdian ini telah melampaui 10.000 kegiatan.
Ia menegaskan, UGM berharap dapat memanfaatkan jaringan masyarakat yang luas ini untuk mendukung inisiatif kemanusiaan ke depan. Dengan begitu, hasil riset, inovasi, dan program kemanusiaan dapat diterapkan, diuji, dan diperluas hingga menjangkau berbagai komunitas di Indonesia.
Menurutnya, penandatanganan perjanjian kerja sama ini menjadi tonggak penting sekaligus awal kemitraan jangka panjang. Kemitraan itu mencakup aksi kemanusiaan, inovasi sosial, pendidikan, riset ilmiah, dan pembangunan berkelanjutan.
Ia berharap kemitraan ini melahirkan inisiatif berkualitas tinggi yang memberi dampak nyata dan berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat, khususnya mereka yang paling membutuhkan.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan presentasi tentang inisiatif kemitraan NAMA dan UGM. Paparannya berfokus pada Jawaher Fund for the Advancement of Women’s Education yang menanggung kewajiban finansial dan biaya kuliah mahasiswi yang diterima di program pascasarjana.
Presentasi itu juga mengulas angkatan pertama penerima dana, yaitu tiga mahasiswi yang terpilih dari 136 pendaftar. Ketiganya berbagi cerita singkat tentang perjuangan mereka dan dampak dukungan yang diberikan mitra universitas.
Paparan tersebut turut mencakup komponen lapangan dan operasional kerja sama baru ini. Di antaranya inkubator inovasi sosial dan pusat yang mengubah inovasi menjadi proyek masyarakat yang inklusif. Cakupannya meliputi dukungan bagi petani perempuan, produksi padi, pengelolaan sampah, dan gizi masyarakat.
Setibanya di UGM, Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi berkeliling Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Di sana, ia melihat sejumlah kegiatan yang tengah berlangsung di ruang acara dan pelatihan milik universitas.
Ia juga mendengarkan penjelasan mengenai program akademik unggulan UGM dan mengunjungi perpustakaan universitas. Perpustakaan ini menyimpan beragam buku dan publikasi yang dimanfaatkan mahasiswa untuk memperluas wawasan dan pengetahuan, sekaligus menjadi sumber rujukan bagi riset yang mereka kerjakan selama studi.
Yang Mulia Sheikh Sultan bin Ahmed bin Sultan Al Qasimi kemudian meninjau lokasi markas Pusat Inovasi Kemanusiaan Jawaher Al Qasimi yang akan mulai dipersiapkan UGM dalam waktu dekat.
Pusat ini bertujuan mengembangkan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan atas tantangan kemanusiaan dan pembangunan dengan memadukan pengetahuan akademik dan keahlian lapangan. Hasilnya berupa model yang dapat diterapkan dan diperluas untuk memberdayakan masyarakat, memperkuat kemampuan mereka menghadapi tantangan, dan meningkatkan penghidupan dalam jangka panjang.
Ke depan, pusat inovasi kemanusiaan UGM ini juga diproyeksikan berkembang menjadi wadah pengetahuan dan inovasi kemanusiaan di Asia Tenggara dan kawasan lain.
Kesepakatan ini mencakup alokasi dana abadi investasi untuk menjamin aliran pendanaan yang berkelanjutan. Hasil pengelolaannya akan mendukung program Pusat Inovasi Kemanusiaan Jawaher Al Qasimi di UGM.
Pusat ini akan mengejar tujuannya melalui empat jalur strategis yang saling terintegrasi. Jalur pertama adalah dukungan riset multidisiplin dan kajian kebijakan, termasuk menjadi tuan rumah bagi para peneliti. Jalur kedua adalah peluncuran tantangan inovasi dan inkubator proyek kemanusiaan. Jalur ketiga adalah pengembangan dan uji lapangan berbagai solusi, disertai pembuktian dampak dan efektivitasnya. Jalur keempat adalah keterlibatan publik melalui dialog komunitas, forum, program kepemimpinan pemuda, inisiatif penyadaran, proyek sosial, dan pemberdayaan ekonomi.
Pusat inovasi kemanusiaan ini akan beroperasi melalui dua platform yang terintegrasi dalam sistem UGM.
Platform pertama adalah markas utama untuk kegiatan riset, kerja sama, dan acara komunitas, sekaligus ruang pamer inisiatif kemanusiaan dan produk para penerima manfaat. UGM akan memberikan dukungan administratif dan akademik serta menyediakan fasilitas dan tenaga ahlinya.
Platform kedua adalah Living Humanitarian Lab. Untuk laboratorium hidup ini, UGM mengalokasikan lahan sekitar dua hektare bagi inovasi pertanian, eksperimen terapan, dan keterlibatan masyarakat. Lahan tersebut akan mendukung ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat.
Pusat Inovasi Kemanusiaan Jawaher Al Qasimi di UGM akan merespons beragam tantangan kemanusiaan dan pembangunan yang saling terkait. Tantangan itu meliputi ketahanan pangan, perubahan iklim, penghidupan dan peluang ekonomi, pengurangan risiko bencana, serta kesejahteraan ibu dan anak. Pusat ini juga menyasar ketimpangan yang dialami kelompok rentan dan komunitas dengan akses terbatas terhadap layanan dan peluang.
Foto: Dok. The Big Heart Foundation