Festival Budaya Warga 2026 | Saat Kampus dan Kampung Merajut Ingatan Bersama di GIK UGM

Festival Budaya Warga 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM

Sabtu, 29 Agustus 2026, halaman Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada berubah jadi ruang temu lintas generasi. Festival Budaya Warga (FBW) 2026 resmi digelar dengan mengusung tema Pancadriya, sebuah gagasan yang mengajak masyarakat membangkitkan kembali ingatan akan budaya lewat kelima indra manusia.

Festival Budaya Warga 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM

Festival Budaya Warga sendiri merupakan program tahunan GIK UGM yang mempertemukan lima elemen budaya Yogyakarta, yaitu Keraton, Kampus, Kampung, Korporasi, dan Komunitas. Melalui FBW, GIK UGM ingin menegaskan peran kampus sebagai ruang kolaboratif, bukan sekadar penonton, melainkan bagian aktif dari pelestarian budaya bersama warga sekitar.

Festival Budaya Warga 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM

Salah satu elemen kunci FBW 2026 adalah Angkringan Akademik, konsep ruang dialog yang mengambil inspirasi dari tradisi angkringan yang egaliter dan terbuka. Di sinilah akademisi, budayawan, dan masyarakat umum bertukar gagasan lewat talkshow bertajuk “Angkringan Akademik x Pojok Bulaksumur”, menghadirkan pembicara seperti Anang Saptoto, Ari Wulu, Dr. M. Zamzam Fauzanafi, dan Prof. Dr. Faruk.

Rangkaian GIK Lokakarya membawa tema besar “ELING”, ajakan untuk kembali mengingat akar budaya diri. Lokakarya ini terbagi dalam lima zona sensorik, mulai dari Dear Eleanor (tea blending), Warung Pelan-Pelan (merujak dan piknik rantang), Star en Habit (pembacaan rasi bintang), Batik Pakualaman (melukis kain), hingga Rumah Seru (permainan tradisional). Setiap zona punya kolaborator dan panggungnya sendiri, sehingga pengunjung dari berbagai usia bisa memilih pengalaman yang paling relevan bagi mereka.

Selain sisi budaya, FBW 2026 juga menghadirkan Layanan Sehat Kampung, program kesehatan gratis hasil kolaborasi GIK UGM dengan Puskesmas Depok III, FK-KMK UGM, FKG UGM, PMI Kabupaten Sleman, dan Komunitas Si Anak Hebat. Enam layanan disediakan bagi 350 peserta, meliputi psikologi, pemeriksaan sadanis, upaya berhenti merokok, kesehatan anak, gigi dan mulut, serta donor darah.

Puncak festival ditutup dengan Pertunjukan Seni di Main Stage, menghadirkan kolaborasi Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), Penari Pakualaman, Orkes Melayu Jarang Pulang, Komunitas Cinta Kain Nusantara, Stece Choir, Kumara, Teater Sedhut Senut, hingga komunitas seni kampung setempat. Perayaan Jumat Sore turut berkolaborasi lewat tema “Seni Budaya” dan menghadirkan Sudut UMKM Warga sebagai ruang unjuk karya bagi pelaku usaha lokal.

Lewat Festival Budaya Warga 2026, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM menegaskan komitmennya membuka pintu kampus seluas-luasnya bagi masyarakat. Festival ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan pendekatan yang edukatif, partisipatif, dan menyenangkan bagi semua kalangan.

Bantu orang lain tahu juga share artikel ini