GIK UGM Jadi Panggung Diskusi Pelestarian Pencak Silat Tradisional di Tengah Arus Zaman
Gedung Innovation and Creativity Hub (GIK) UGM di Yogyakarta kembali menjadi ruang temu lintas komunitas, kali ini menghadirkan sarasehan bertajuk “Pencak Silat Tradisional di Persimpangan Zaman” pada Kamis (27/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pencak Wisata Budaya (PWB) ke-5 yang diinisiasi oleh Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta, mempertemukan para pegiat, pendekar, dan akademisi untuk membahas masa depan warisan bela diri asli Nusantara ini.
Perwakilan PAS Yogyakarta, Suryadi, membuka diskusi dengan menggambarkan posisi pencak silat saat ini yang berada di antara dua arah: jalur prestasi yang identik dengan kompetisi dan penghargaan, serta jalur tradisi yang menyimpan jati diri dan nilai leluhur meski minim sorotan panggung. Menurutnya, forum di GIK UGM ini hadir bukan untuk mempertentangkan kedua jalan tersebut, melainkan untuk mencari titik temu agar keduanya bisa berjalan beriringan.
Ia menambahkan bahwa PWB ke-5 sengaja dirancang sebagai wadah silaturahmi antar-perguruan silat sekaligus forum berbagi gagasan tentang keberlanjutan tradisi. Suryadi juga menyoroti pentingnya keterlibatan dunia akademik, dengan UGM dipandang sebagai mitra strategis untuk menggali lebih dalam pengetahuan yang selama ini berkembang di padepokan-padepokan namun belum banyak terdokumentasi secara ilmiah.
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, menegaskan bahwa tema “Di Persimpangan Zaman” dipilih karena pencak silat menyimpan dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar teknik bela diri. Di baliknya terkandung filosofi, nilai moral, dan pengetahuan turun-temurun yang menjadi identitas masyarakat pendukungnya.
Dian mengingatkan bahwa UNESCO telah menetapkan pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 15 Desember 2019, dengan Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang berperan dalam proses pengusulannya. Status ini, menurutnya, membawa tanggung jawab besar: pelestarian tidak boleh berhenti pada gerakan fisik semata, tetapi juga harus menjaga utuh makna dan pengetahuan yang menyertainya.
“Zaman bergerak serba instan dan cepat. Ada kekhawatiran nilai-nilai yang melekat pada pencak silat justru luntur, sehingga yang tersisa hanya gerakan tanpa makna,” ujarnya, menggarisbawahi urgensi kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah, akademisi, hingga komunitas, untuk menjaga silat tetap hidup sebagai budaya, bukan sekadar warisan yang dikenang.
Terselenggaranya sarasehan ini di GIK UGM menegaskan peran gedung tersebut bukan hanya sebagai pusat inovasi dan kreativitas berbasis teknologi, tetapi juga sebagai ruang terbuka bagi diskusi kebudayaan dan pelestarian warisan lokal. Melalui kolaborasi bersama PAS Yogyakarta dan Dinas Kebudayaan DIY, GIK UGM memperkuat posisinya sebagai simpul pertemuan antara akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat luas di Yogyakarta.